Subscribe:

Labels

Sabtu, 02 Maret 2013

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK TK/RA


·                     MODEL-MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK TK/RA
Pendahuluan
Bahasa Inggris untuk anak TK? Lalu seperti apa materinya? Bagaimana mengajarnya?Pertanyaan ini sering muncul seiring makin banyaknya PAUD, TK atau RA yang memasukkan Bahasa Inggris sebagai salah satu isi kurikulumnya. Belum lagi factor guru. Apakah latar belakang guru dari pendidikan Bahasa Inggris, kalau ya apakah waktu kuliah dia mendapatkan mata kuliah EYL. Kalau tidak lalu bagaimana guru mengajarnya?

Materi ini dimaksudkan bisa membantu guru yang mengalami kesulitan dalam mengajar bahasa Inggris untuk anak usia dini. Namun masih perlu dikembangkan oleh guru di kelas masing-masing sesuai dengan kondisi kelas, kemampuan sekolah dan kemampuan guru yang bersangkutan. Materi ini terdiri dari tiga bagian inti: (1) Anak dan kelebihannya, (2) Pembelajaran Bahasa dan (3) Model-model pembelajaran Bahasa.
1. Anak dan Kelebihannya
Anak masuk ke ruang kelas bahasa tidak dengan tangan kosong. Mereka telah memiliki insting, ketrampilan dan pengetahuan yang akan membantu mereka untuk mempelajari bahasa asing. Kita bisa mengidentifikasinya dan kemudian bisa mengembangkannya untuk mereka. Contoh:
· Anak sudah bagus dalam menginterpretasikan makna tanpa harus memahami setiap kata.
· Anak dengan keterbatasan pengetahuan bahasanya bisa menggunakannya secara kreatif
· Anak lebih sering belajar secara tidak langsung dari pada belajar langsung
· Anak lebih senang bila belajar melalui tindakan
· Anak sudah bisa berbicara
1.1 Kemampuan Anak dalam Menerka Makna
Kita tahu dari pengalaman bahwa anak yang masih kecil mampu memahami apa yang dikatakan pada mereka bahkan sebelum mereka memahami arti setiap kata. Intonasi, bahasa tubuh, ekspresi wajah, gerak dan sikon (situasi dan kondisi) semua membantu anak memahami tentang kata dan frasa yang belum mereka pahami. Dengan memahami pesan melalui cara ini mereka mulai belajar bahasa. Pada akhirnya semua orang mempertahankan sumber pertama ini untuk memahami sesuatu diluar pengetahuan bahasanya. Hal ini menjadi bagian fundamental komunikasi manusia.
Anak masuk kelas sudah memiliki kemampuan tersebut diatas dan kemampuan tersebut sudah mulai berkembang. Mereka secara terus menerus menggunakan kemampuannya di semua kegiatan belajar/sekolah. Contoh, meskipun ketrampilanbahasa ibu mereka (bahasa Indonesia) sudah berkembang baik, mereka tetap saja mendapati kesulitan untuk mengikuti perintah dan informasi secara verbal. Ketika hal ini terjadi, karena kemalasan atau tidak memperhatikan, anak cenderung mengandalkan kemampuannya untuk “membaca” pesan utama. Fakta dengan jelas terbuti bila anak kadang salah dalam menduga. Hal yang paling penting dalam perkembangan bahasa anak adalah ketrampilan mereka menginterpretasikan makna. Ini merupakan cara mereka belajar kata-kata baru, konsep dan ekpresi dalam bahasa ibu ketika bahasa mereka berkembang untuk mengatasi kesulitan baru di sekolah.
Jadi ketika anak mempelajari bahasa baru/asing di sekolah, mereka akan menggunakan ketrampilan yang sama untuk menginterpretasikan bunyi, kata dan truktur baru. Guru dalam hal ini harus bisa membantu dan mendukung agar ketrampilan ini tetap berkembang. Guru bisa melakukannya dengan memastikan bahwa guru telah menggunakan secara penuh bahasa tubuh, intonasi, demonstrasi, gerak dan ekspresi wajah untuk menyampaikan makna yang sesuai dengan apa yang guru katakan.
Diluar itu semua untuk memahami makna, anak menunjukkan ketrampilan yang besar dalam menghasilkan bahasa yang bermakna dari sumber yang terbatas.
1.2 Kreatifitas Anak
Di awal-awal tahapan perkembangan bahasa ibu, anak sangat bagus dalam membuat stuktur bahasa yang sedikit keluar aturan, mereka juga kreatif dengan konsep bahasa. Seorang anak kecil usia empat tahun mengatakan ‘don’t unring’ ketika ia meminta penelpon untuk menunggu. Dia menggunakan pengetahuannya yang telah ada yaitu penambahan awalan untuk menghasilkan maksud yang dia perlukan. Ada juga anak yang mengatakan ‘Switch of the dark, I don’t like the dark shining.’ Anak juga menggunakan kata dengan analogi atau bahkan kata-kata yang benar-benar baru dan menggunakannya dalam keluarga.
Fenomena di atas penting untuk pengembangan bahasa. Kita melihat hal ini terjadi pada semua anak ketika memperoleh bahasa ibu. Orang dewasa kadang juga menggunakan kreatifitas ini dalam bahasa asing ketika dia mendapati keterbatasan. Sebagai contoh kadang orang dewasa ingin mengatakan sesuata namun dia tidak mengetahui kosa kata atau gramatikanya, untuk menyampaikan maksud yang ingin dia katakan kemudian dia menggunakan bahasa pertama namun dengan aksen asing. Dalam melakukannya hal demikian sebenarnya dia telah membangun pemahaman bahasa sebab dia menggabungkan dan menyusunnya kembali untuk dirinya sendiri. Proses ini akan muncul karena sudah merupakan insting manusia dan sudah mengakar. Untuk membuat ketrampilan bahasa yang kreatif, guru harus menyediakan pada anak kesempatan: 1) untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri; 2) mendorong mereka membagun kemampuan berbahasanya bukan hanya mengajari mereka mengulang-ulang kata atau frasa. Oleh karena itu penggunaan game/permainan sangat diharapkan bukan saja karena menarik tetapi permainan bisa menciptakan hasrat untuk berkomunikasi.
1.3 Kapasitas Pembelajaran Tidak Langsung
Ketika pembelajaran berlangsung dengan ketat guru biasanya mengendalikan kegiatan kelas
Namun anak kadang masih memperhatikan hal-hal diluar yang diajarkan guru dan hal-hal dari luar tadi justru lebih diingat oleh anak. Hal ini kadang bisa membuat guru frustasi tapi kapasitas ini bisa diubah oleh guru yang akhirnya justru bisa menguntungkan pembelajaran. Ini adalah bagian dari fenomena belajar tidak langsung yang lebih komplek.
Kegiatan belajar bahasa yang melibatkan anak menebak kata atau frasa adalah contoh fenomena dalam tindakan nyata. Selama anak mencoba menebak untuk mendapatkan jawaban yang benar, tanpa anak sadari, dia telah belajar kata dan frasa lebih dari separo yang ia ketahui sebelum bermain. Kemudian anak akan dengan mudah bisa mengulang kata, frasa yang tertanam di ingatannya dan mereka kemungkinan juga sudah bisa membetulkan pengucapannya. Menebak adalah cara belajar bahasa yang bagus. Cara ini termasuk belajar tidak langsungkarena pikiran anak fokus pada tugas/jawaban benar bukan pada bahasanya.
Pembelajaran bahasa secara langsung dengan cara sadar dan belajar secara tidak langsung dan tanpa sadar adalah dua cara belajar bahasa yang membantu anak merekam bahasa baru. Pengalaman telah menunjukkan pada kita bahwa kita semua tampaknya memiliki dua cara di atas. Perkembangan tergantung pada perkembangan intelektual, temperamen dan situasi kondisi apakah kita lebih cenderung menggunakan satu lebih dari pada system lainnya. Dalam prakteknya setiap cara memberikan kontribusi pada perkembangan bahasa. Belajar bahasa dengan cara langsung dan sadar tampaknya lebih menodorong ketepatan, belajar tidak langsung lebih mendorong pada spontanitas dan kelancaran. Idealnya dua cara tadi berkembang secara seimbang. Sehingga guru di kelas perlu memberikan kesempatan pada dua cara tadi bisa berkembang.
1.4 Peranan Imaginasi
Mengajar bahasa seharusnya berhubungan dengan kehidupan nyata. Namun sayang jika guru hanya fokus pada realita di kelas sehingga lupa bahwa realita bagi anak termasuk imajinasi dan fantasi. Sehingga hal yang bersifat imaginasi dan fantasi tampak autentik bagi anak. Sehingga penggambaran jumlah kaki dinosaurus, jumlah tangan monster sangat normal pada anak-anak. Jika guru mempercayai peran imaginasi dan fantasi pada anak, guru bisa melihat bahwa fantasi dan imaginasi akan memberikan perangsang yang kuat untuk penggunaan bahasa. Guru bisa menstimuli imaginasi kreatif agar mereka mau menggunakan bahasa untuk mengungkapkan ide mereka.
1.5 Insting Berinteraksi
Semua insting dan atribut yang dibawa anak bagi guru bahasa sangatlah penting. Anak perlu berbicara. Tanpa berbicara mereka tidak bisa menjadi pengguna bahasa yang baik. Mereka bisa belajar tentang bahasa, tetapi cara terbaik dalam belajar bahasa adalah dengan menggunakan bahasa. Sehingga pekerjaan guru adalah memastikan bahwa hasrat untuk berbicara berfungsi untuk belajar bukan bertentangan dengan belajar.
2. Pembelajaran Bahasa Asing
Bahasa, ketrampilan berfikir dan pengembangan konsep sangat erat hubungannya. Dalam buku Complete Early Childhood Curriculum Resource bahasa didefinisan sebagai system komunikasi yang digunakan manusia untuk menyampaikan ide dan pikiran melalui penggunaan kata, frasa dan kalimat yang bisa dipahami.
Guru bertanggungjawab untuk penyediaan lingkungan dimana anak-anak dapat mengembangkan ketrampilannya secara obtimal. Anak-anak belajar bahasa melalui pengalaman, ekplorasi dan interaksi dengan guru dan temannya dalam lingkungan yang sudah disiapkan sedemikian rupa. Pengalaman bermakna selama pembelajaran memberikan pondasi kognitif untuk berkembangnya bahasa anak.
Perkembangan bahasa mengikuti urutan yang teratur. Dalam bahasa anak terdapat banyak keumuman dan kekonsistenan , tetapi setiap kelas akan ada kemapuan yang beraneka ragam. Strategi dalam membantu perkembangan bahasa anak harus didasarkan pada kesadaran akan tingkat perkembangan.
Anak terbuka pada hal-hal yang sudah familiar, baru dan menyenangkan. Guru bisa memancing anak untuk mengeluarkan ide dengan cara menggunakan beragam mainan, dan bahan pembelajaran. Guru harus menyedian waktu yang cukup bagi anak untuk mengamati dan mengekplorasi bahan pembelajaran, dan begitu juga guru harus memberikan waktu yang cukup bagi anak untuk berbicara dengan lainnya dengan menggunakan bahasa yang makin meningkat tingkat kerumitannya.
Lingkungan kelas harus diatur agar anak bisa berinteraksi satu sama lain, dengan guru, ada input, latihan dan feedback bahasa yang terjadi. Mengembangkan pengalaman nyata anak dengan bahan ajar untuk meningkatkan kosa kata anak dan membawa anak berhubungan langsung dengan kata baru melalui penggambaran secara langsung baik dengan teman atau guru.
Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak
a. Expansion: untuk membantu memperpanjang ujaran anak, ujaran anak cenderung berpola oleh karenanya tambahan pola perlu diberikan.
Anak : “I see cat.”
Guru : “ Yes, I see a big, white cat.”
b. Correction: Untuk meningkatkan kualitas ujaran anak
Anak : ”Me want cookies.”
Guru : “Yes, I want cookies.”
c. Extension: Guru mengucapkan untuk memberikan informasi baru
Anak : “My car goes.”
Guru : “Yes, and some go fast and some go slow.”
d. Modeling: Ini adalah penggunaan struktur bahasa orang dewasa untuk menjawab pertanyaan dari anak, oleh sebab itu tetap dibatasi kosakatanya. Orang dewasa sebagai model bagi anak.
e. Open-ended Question: Memberikan pertanyaan pada anak agar anak bisa bergerak kearah yang lebih dari kalimat pertamanya.
Anak : Truck broke.”
Guru : “How did the truck break?”
Teknik-teknik di atas menunjukkan bahwa didalam membantu pembelajaran bahasa, anak bukanlah pendengar pasif, tapi bisa berperan sebagai participant aktif dalam mengembangkan bahasanya melalui pengalaman yang bermakna bagi anak. Ini berarti guru harus menjadi pengamat yang aktif dan mengikuti interaksi anak secara langsung.
Memahami perkembangan bahasa anak, struktur, dan fungsinya adalah tugas yang cukup menantang bagi guru. Guru harus ekstra dan secara terus menerus membantu apa yang familiar dan dikenal anak, menghubungkannya dengan pengalaman baru, dan kemudian mengembangkan agar bahasa baru bisa dikuasai anak.
3. Model-Model Pembelajaran
Model pembelajaran ini sengaja disajikan untuk mempermudah peserta dalam mempraktekannya di tempat masing-masing. Karena sifatnya contoh untuk itu bahan pembelajarannya disesuaikan di tempat masing-masing. Tema yang disajikan juga belum menyeluruh. Untuk itu tema-tema yang belum ada pembelajarannya bisa mengadopsi pada contoh-contoh yang diberikan.
3.1 School
Tour of School. Ajak anak keliling dan bertemu karyawan sekolah.
Learning about School Helpers. Lakukan keliling sekolah untuk menjumpai school helpers(nurse, librarian, school secretary, and principal). Mintalah masing-masing helper memperkenalkan diri pada anak tentang nama, tugas dan alat-alat yang digunakan dalam bertugas.
Learning about School Helpers/Classification. Guru telah menyiapkan foto-foto semua school helpers dan gambar alat yang digunakan. Anak menyebut nama alat dan nama orang yang menggunakan.
Language Experience Story. Tulis cerita pendek tentang setiap school helper dengan bahasa yang sederhana.
Listening Game. Rekam suara yang familiar yang ada di sekolah, contoh suara air keran, pintu dibuka/ditutup, orang menyanyi. Minta anak mendengarkan dan mengidentifikasi suara apa.
School Bus. Minta pak sopir bus sekolah untuk mengajak anak keliling. Mintalah pak sopir menyebutkan bagian-bagian bus (door, steering wheel, seat bealt dll)
Make a School Booklet. Tergantung dari tingkat kelompoknya, anak bisa menggambar sendiri atau hanya mewarnai gambar yang sudah disiapkan oleh guru tentang kegiatan-kegiatan sekolah seperti waktu makan kue, menggambar, mendengarkan cerita, bermain diluar, atau bermain balok. Pastikan bahwa tugas guru adalah berbicara dengan anak melalui gambar tersebut. Kegiatan ini lakukan berkali-kali.
Labeling. Minta anak memberi nama bahan-bahan yang ada di dalam kelas.
Matching. Minta anak mencocokan gambar dengan objeknya yang ada di dalam kelas sambil menyebutkan namanya.
Following Directions. Minta anak melakukan satu, dua perintah. Contoh,”Bring me the scissors, then pick up the book.”
Memory Game. Siapkan tiga sampai lima bahan atau gambar dan beri nama, minta anak menutup mata lalu guru mengambil/menghilangkan satu bahan. Minta mereka membuka mata dan tanya barang apa yang hilang.
Sorting and Classifying. Pilih gambar-gambar yang ada hubungannya dengan sekolah dan yang tidak lalu minta anak memilih mana yang tidak termasuk di sekolah.
Riddles. Letakkan barang dibalik tirai. Berikan kata-kata bantuan lalu minta anak menebak nama barang tersebut.
3.2 Body Parts
Responding to Questions Using Full Sentences. Tanya anak” What is you name?” Anak harus menjawab dengan kalaimat lengkap, “ My name is ……………..” selanjut setelah dilatih berkali-kali guru bisa mengembangkan pertanyaan seperti, “What color is your shirt? Where are your shoes? Who is sitting next to you? Supaya anak senang rekam jawaban mereka dan perdengarkan lalu minta mereka menebak suara siapa.
Star of the Day or Week. Pilih hari khusus untuk anak sebagai bintangnya. Pada hari yang sudah ditentukan anak sebagai bintang boleh memakai pakaian berbeda kesekolah atau membawa album keluarga, boneka, mainan. Anak bisa menunjukkannya pada yang lain dan bisa untuk display.
What I can Do. Siapkan gambar tentang orang yang melakukan sesuatu, tunjukkan pada anak macam-macam aktifitas tersebut seperti, menyisir rambut, naik sepeda, melukis, melempar dll. Guru member contoh, “ He is combing his hair.” Minta anak mengulang. Lalu Tanya pada mereka, “ Who can comb his hair?” Pastikan gambar terdiri dari laki-laki atau perempuan supaya anak bisa belajar hedan she.
Make a “Me” Book. Terdiri dari beberapa halaman didalamnya ada gambar/foto anggota keluarga, binatang kesayangan, makanan kesukaan, acara TV, dan kegiatan pengisi waktu. Buku ini bisa ditambah halamannya sesuai selera anak bisa juga ditambah potongan-potongan gambar dari majalah.
Mirror, Mirror: Minta anak berdiri di depan cermin lalu mintalah dia berbicara satu dua kata/kalimat tentang dirinya sendiri.
Same and Different. Minta dua anak berdiri di depan cermin lalu minta mereka menyebut persamaan dan perbedaan diantara mereka.
Describing Each Other. Minta anak berdiri berhadapan, masing mengatakan sesuatu tentang yang lain.
Person Collage. Beri anak gambar berbentuk lingkaran, setiap hari tambahkan bagian-bagian seperti gambar mata, hidung, mulut,. Gunakan benang untuk rambut. Bahas masing-masing fungsinya.
Assemble a Body. Sediakan guntingan gambar lengan, kaki, badan, kepala (bentuk semacam puzzle), minta anak menggabungkan kembali lalu bertanyalah tenatang fungsi anggota badan tersebut.
Body Part-Clothing. Bawa satu tas berisi pakaian yang berbeda (baju, sarung tangan, kaus kaki,celan, topi, kerudung dll). Tanyakan bagian tubuh mana yang ditutup oleh kain/barang tersebut.
3.3 Grocery Store
Grocery Store in the Classroom. Berbelanja bisa menjadi tema kelas. Minta orang tua untuk mengirimkan pada anda kotak, kardus, kaleng dan botol plastic kosong. Buat tas belanja, nota, pencatat pembelian, uang-uangan, buah dan sayur imitasi, dan benda benda lain yang menurut anda perlu untuk pelengkap toko. Tema Grocery Store bisa menjadi tema permainan kreatif dan kegiatan berbahasa yang lebih terstruktur.
Shopping List Game. Beri setiap anak daftar belanja dalam bentuk gambar. Potong lima gambar sayur atau buah untuk setiap anak. Minta anak untuk mencocokkan gambar dan barang di toko, dan membayarnya. Ingat barang di masukkan dalam tas belanja.
Shopping by Memory. Tergantung tingkat setiap anak, minta anak membeli barang melalui perintah lisan.
Grocery Store Field Trip. Ini adalah kegiatan belanja sungguhan. Buat perjanjian dengan mini market, atau super market sebelum anda membawa anak berbelanja. Buat daftar barang yang mau dibeli oleh anak (contoh. Roti, makanan kaleng, minuman kotak dll). Beri setiap anak daftar belanjaan. Biarkan anak belajar membayar sendiri dan menerima pengembaliannya. Banyak supermarket yang senang dengan kegiatan ini dan dengan sukarela membantu anak-anak.
Food Classification by Picture. Buatlah kupon belanja dalam bentuk gambar. Lalu buatlah klasifikasi barang belanjaan dalam 3 atau 4 katagori. Contoh: buah, sayur, minuman, makanan. Gunakan 4 kardus bekas dan tempel disisinya masing-masing satu kategori. Minta anak memasukkan barang belanjaannya kedalam kardus sesuai kategorinya.
Guessing Game. Gunakan Grocery Store anda, beri anak kesempatan untuk berbelanja, barang yang sudah dibeli dimasukkan ke dalam tas belanjaan. Minta teman lainnya untuk menebak barang apa yang dibeli. Bantu anak dengan kata bantuan. Jelaskan, warna, bentuk, kapan dimakannya dsb.
Vegetable Science. Potong bagian atas kentang lalu tusuk dengan menggunakan tusuk gigi. Ambil gelas dan isi air, masukkan bagian yang ditusuk dibagian bawah. Usahakan sebagian bawah ini kena air. Minta anak setiap hari mengamati pertumbuhannya.
Introduce Vegetables. Tunjukkan pada anak beberapa jenis sayuran. Bisa dalam bentuk gambar, plastic atau sayuran asli. Katakan pada anak tentang bentuk, ukuran dan warnanya untuk tiap-tiap sayuran. Lalu bandingkan masing-masing sayuran atas rasa, warna dan bentuknya.
Music Vegetable. Minta anak membentuk lingkaran. Saat anak mendengarkan musik, gambar sayuran atau gambar buah terus berpindah dari satu anak ke anak yang lain. Saat music berhenti anak yang kebetulan memegang gambar harus menyebut nama sayuran yang dipegangnya.
Same and Different. Ambil dua gambar sayur/atau buah taruh di atas meja ajak anak untuk mencari persamaan atau perbedaannya.
3.4 Family
Making a Family Album. Anak membawa foto anggota keluarganya termasuk foto anak, namun cara membawanya tidak sekaligus. Sehari cukup satu foto anggota keluarga. Bantu anak mengatakan, “He is my father.” dst.
Family Visitors. Pada hari saat anda meminta anak membawa satu foto keluarga. Anda bisa mengundang anggota keluarga yang ada di foto ke dalam kelas. Mungkin ibu, bapak atau nenek mereka. Anggota keluarga yang hadir tadi bisa diminta untuk melakukan kegiatan membaca buku, bernyanyi, membagi kue, atau kegiatan apapun yang menurutnya nyaman untuk dilakukan.
Mom/Dad Picture. Ketika anak berbicara tentang foto ibunya (geneder perempuan) suruh anak-anak membuka majalah dan menunjukkan gambar yang berjenis perempuan. Begitu juga sebaliknya bila anak berbicara tentang foto bapaknya. dst.
Whose Mom or Dad is It? Mintalah orang tua menulis satu paragraf pendek sedikit tentang mereka, tentang profesi, dan tentang apa yang dilakukan di rumah. Setiap hari bacalah satu dua pararagraf dan minta anak menebak orang tua siapakah yang mempunyai identitas seperti yang diucapkan guru.
Picture Sort. Dengan menggunakan foto keluarga yang dibawa ke sekolah sebelumnya, kumpulkan semua dan minta anak mengelompokkan menjadi dua katagori laki-laki dan perempuan. Lalu gunakan gambar-gambar barang seperti sepatu, dompet, gambar baju, celana dll, lalu minta anak untuk menyesuaikan mana gambar untuk katagori laki-laki dan mana untuk perempuan (ini untuk mengenalkan istilah He, she dalam bahasa inggris).
Finding Families. Tempelkan foto-foto anggota keluarga anak secara acak. Lalu tempelkan di papan display. Minta anak untuk menunjuk anggota keluarganya. Tanya siapa nama keluarga di foto tersebut, apa kesukaannya dan apa yang tidak disuka.
Families. Dengan menggunakan gambar, puppet, boneka kenalkan kepada anak-anak anggota keluarga: ibu, ayah, kakak dan adik. Tergantung pada kondisi keluarga di kelas, bisa juga dikenalkan kakek, nenek, paman dan bibi. Keluarga bisa besar bisa juga kecil. Keluarga bisa dipimpin satu atau dua orang dewasa, keluarga saling menyayangi, keluarga bekerja dan saling membantu.
Family Album. Minta anak membawa album keluarga ke sekolah, minta anak menceritakan hubungan dia dengan mereka yang ada di foto. Sebaiknya minta orang tua membuat catatan dibalik foto tentang siapa mereka supaya anda bisa membantu anak menggunakan bahasa dengan benar.
Family Jobs. Bangkitkan semangat anak untuk berbicara tentang pekerjaan dan tanggungjawab yang dilaksanakan oleh masing-masing anggota kelurga. Tunjukkan tentang satu gambar dan tanyakan kegunaannya. Contoh gambar keranjang sampah, untuk apa dan siapa yang membuang sampahnya ke bak sampah.
3.5 Pets
Introduce Pats. Kenalkan gambar satu atau dua jenis binatang kesayangan. Display masing-masing gambar. Gali sebanyak mungkin informasi yang bisa membantu anak menyampaikan apa yang diketahuinya. Mulai dari ukuran, dan warna masing-masing, apa yang menutupi kulitnya, bagaimana bergeraknya, bagaimana suaranya, apa makanannya. Kegiatan ini bisa berlangsung beberapa pertemuan
Closure Activity. Ini adalah kegiatan penutup untuk melatih pendengaran anak. Minta anak melengkapi ucapan guru. Contoh:
A dog has four legs, a bird has ………. A fish swims, a dog ………………..
What’s a Pet? Sampaikan pada anak apa itu binatang kesayangan. Tekankan bahwa binatang kesayangan adalah binatang jinak yang bisa diajak bermain, dan dapat dirawat di rumah. Gunakan beberapa gambar binatang yang bisa dan tidak bisa dijadikan sebagai binatang kesayangan. Beri nama pada gambar binatang tersebut dan minta anak untuk mengelopokkan mana yang termasuk binatang kesayangan dan mana yang tidak. Bisa juga dikelompokkan kedalam katagori binatang kesayangan, binatang untuk lahan pertanian, binatang hutan.
Class Pets. Jika di dalam kelas tidak ada binatang belilah ikan, hamster, marmud. Hal ini bagus untuk member pelajaran kepada anak bagaimana member makan dan bagaimana menyayangi binatang.
Pet Visitors. Bolehkan sekali waktu anak membawa binatang kesayangan ke kelas. Anak bisa mengenalkan binatang kesayangannya pada temannya, apa makanannya, dimana tidurnya, bagaimana suaranya, dan bagaimana merawatnya.
Pet Book. Minta anak untuk menggambar/mewarnai binatang kesayangannya atau binatang yang ia ingin miliki. Guru menuliskan namanya, lalu temple bersama untuk dijadikan buku kelas tentang kumpulan binatang kesayangan.
What Would You Feed It? Gunting beberapa gambar tentang binatang kesayangan dan makanannya, mintalah anak untuk mencocokkan antara binatang dan makannya.
Mother and Baby Pets. Display gambar yang banyak tentang induk dan anak binatang lalu mintalah anak-anak mencocokkannya. Bantu mereka mempelajari nama induk dan anaknya.
3.6 Colors
Orange Hunt. Minta anak berkeliling dalam kelas dan mencari segala sesuatu yang berwarna orange dan disebut nama bendanya.
Orange Day. Bikin hari orange. Anak harus membawa sesuatu yang berwarna orange, memakai sesuatu yang orange. Bila mungkin jatah kue hari itu dibikin warna orange.
Orange Making. Berikan pengalaman pada anak untuk mencapur pewarna warna merah dengan kuning, bisa dari pewarna bahan makanan atau cat untuk melukis. Minta mereka menggambar langit atau apa saja dengan nuansa orange.
Scavenger Hunt. Minta anak keliling sekolah mencari segala yang berwarna coklat.
What is Brown?. Potong segala gambar yang berwarna coklat dari majalah sebanyak-banyaknya. Lalu temple-tempel gambar tersebut menjadi bentuk gambar baru lalu beri nama.
Brown Hike. Ajak anak jalan-jalan untuk mencari segala sesuatu yang berwarna coklat. Beri masing masing anak kantong plastic. Setelah kembali ke kelas masing-masing dengan menggunakan lem membuat collage
White Collage. Minta anak membuat collage dengan bahan kapas dan lain-lain yang berwarna putih.
3.7 Directional and Positional Concepts.
Body Movement. Minta anak melakukan tindakan yang diperintahkan guru dengan menggunakan kata in dan out. Mereka bisa diminta masuk dan keluar dari teowongan, kotak atau tempat-tempat yang biasa dipakai anak untuk keluar masuk sebagai mainan. Minta anak menjawab pertanya guru, “Where are you?”
Object Movement. Berikan kesempatan pada anak untuk melakukan permainan dengan cara memasukkan dan mengeluarkan barang seperti spedol dan kotak, surat dan amplop, dompet dan tas dll. Mintalah anak melakukan perintah, “Put the letter in the envelope.”
Directional Picture. Potong beberapa gambar dari majalah yang menunjukkan posisi in dan out Tunjukkan gambar pada anak dan tanyakan pada mereka,”Where is the…….?” Anak belajar menjawab dengan menggunakan konsep in dan out.
Slides and Stairs. Kenalkan konsep up dan down saat di playground. Anak harus diberitahu apa yang sedang mereka lakukan, dan dimana mereka menggunakan kata up dan down. Cobalah kegiatan yang sama dengan cara naik atau menuruni tangga sekolah.
Up and Down Walk. Berjalan-jalanlah keluar. Anak akan menemukan dan belajar apa yang ada di langit dan apa yang ada dibawah.
Up and Down Sorting. Bagi papan display menjadi dua lalu mintalah anak-anak menempelkan gambar dengan menggunakan double –tape sesuai dengan faktanya. Semisal gambar helicopter, awan, pesawat, burung, layang-layang, kereta, anjing, mobil, rumput dll.
Up and Down Object Movement. Dengan menggunakan tali ajari anak kata up and down pada balloon
Chair Game. Perintahkan anak untuk melakukan stand up on chair atau down di lantai. Ulangi dengan menggunakan object
Bottoms and Tops. Kenalkan konsep bottom dan top pada anak dengan menggunakan gambar, puzzles, meja, mainan dll. Minta pada anak untuk menunjukkan mana bagian yang di sebut buttom dan mana yang disebut top dari barang tersebut.
Body Part. Anak- anak dapat penyentuh bagian top dan down tubuhnya seperti kepala dan kaki.
Direction Draw. Buat garis di tengah-tengah papantulis. Perintahkan anak untuk membuat gambar,”Draw a circle over the line,” “Make a plus sign under the line,”
Action Directions. Dengan menggunakan benda konkrit, berikan perintah pada anak-anak untuk melakukan langkah-langkah seperti,”Put the book over your hand, put the scissor under under the table, put the box under the slide.”
3.8. Penutup
Kalau kita ingin mengajari anak tentang rasa pedas tentu kita tidak langsung meminta mereka memakan cabe karena hal tersebut dapat membuat anak yang tadinya belum pernah tau rasanya pedas akan trauma dan seumur-umur mungkin tidak mau mau makan dengan rasa pedas. Segala sesuatu ada ukurannya jangan jejali anak dengan sesuatu yang berat. Betul memang anak mudah menyerap segala yang baru tapi cara kita mengajarinyalah yang lebih penting.
Tugas: Nyanyikan sesuai nada yang diberikan
Song to Teach Names: (Tune: Paw, Paw, Paw Patch-FFFF ACAF GGGG EGEG FFFF ACAF)
Teacher: Where oh where is my friend______________________?
Where oh where is my friend______________________?
Where oh where is my friend______________________?
Child: (raise hand and responds)
“Here I am.”
(Tune: CFEDC ABC GAB# AB#C C FEE DC AB# C GAF
Hello Everybody yes indeed, yes indeed, yes indeed
Hello Everybody yes indeed, this is (name of school: example: Fastkhair)
( Guru kemudian menyebut nama satu anak dan menunjuknya)
Here’s ALI
( dan anak menjawab)
“I’m Karim.”
( lanjutkan memutar sampai semua anak mempunyai kesempatan untuk mengatakan namanya)

0 komentar:

Poskan Komentar